Inilah Penyebab Kehancuran ‘Kota Maksiat’ Pompeii

Pompeii

SemuaAdaDisini.com – Hari itu, 5 Februari tahun 62 Masehi. Menjelang siang di Pompeii, kota makmur dan megah di kaki Gunung Vesuvius, Italia. Tanpa peringatan, Bumi tiba-tiba berguncang hebat.

Rumah-rumah rubuh, patung-patung besar dari perunggu retak, bahkan kuil-kuil para dewa tak selamat. Orang-orang tumpah ke jalanan dengan pandangan kosong tak berdaya. Mereka bertanya, “Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?”

Tak diketahui pasti apakah ada korban manusia kala itu. Namun, ratusan domba ditemukan mati secara misterius. Tak ada yang tahu kenapa. Kota dicekam horor dan ketidakpastian dikutip dari liputan6.com.

Di era modern, kita tahu, gempa besar adalah hasil dari aktivitas tektonik. Italia berada di zona subduksi antara lempeng Afrika dan Eurasia. Namun, bagaimana penduduk Romawi kuno memahami bencana itu?

Seorang filsuf, Seneca menuliskan kesaksian sekaligus telaahnya. “Udara yang terperangkap dalam Bumi adalah penyebab gempa. Saat bergerak di dalam tanah, ia akan menyebabkan tremor dan melepaskan uap beracun. Uap tersebut mungkin membunuh domba-domba itu,” demikian kesimpulannya seperti dikutip dari situs University of Houston.

“Kematian ada di mana-mana,” kata Seneca. Dan ia benar.

Pompeii memang dibangun kembali. Lebih megah, indah, lebih maju. Warganya yang sudah lupa dengan bencana, sibuk dengan urusan sehari-hari. Rumah-rumah bordil kembali beroperasi. Dunia malam pun semarak.

Namun, semua itu hanya bertahan 17 tahun. “Vesuvius (kemudian) mengangkat tangannya, berucap, ‘Kita akan bertemu,” demikian lirik lagu The Earthquake 62 A.D yang dinyayikan band rock progresif asal Jerman, Triumvirat.

Pada akhirnya, cahaya Pompeii lenyap selamanya. Kota itu mati.

Para ilmuwan berpendapat, gempa yang terjadi di tahun 62 Masehi adalah pendahuluan untuk malapetaka yang jauh lebih buruk: letusan gunung berapi.

Pada 24 Agustus 79, Gunung Vesuvius meletus dahsyat. Awan panas, hujan batu, dan abu yang membara mengubur Pompeii, dan tragisnya, mengabadikan saat-saat terakhir orang-orang yang ada di dalamnya.

Baru 1.600 kemudian, secara tak sengaja, Pompeii ditemukan.

Penggalian arkeologis menemukan jasad-jasad manusia yang diawetkan oleh abu, dengan segala pose. Menguak jalanan beku, tempat pelacuran yang dipenuhi fresko erotis, dan patung-patung dengan pose mesum — menggambarkan gaya hidup bebas para penghuninya. Yang membuat Pompeii dijuluki ‘kota maksiat’.

Ancaman Belum Usai

Tak jauh dari lokasi Pompeii berada, di dekat Naples para ilmuwan mengungkap keberadaan gunung berapi super, “supervolcano” tersembunyi, yang bisa membunuh jutaan manusia dalam sebuah bencana dahsyat, yang berkali lipat lebih buruk dari letusan Vesuvius.

Lumpur mendidih dengan uap belerang di area yang dikenal sebagai Campi Flegrei atau Phlegraean Field,  yang berasal dari Bahasa Yunani yang berarti  “terbakar” — adalah penandanya.

Campi Flegrei yang ‘tidur’ selama lebih dari 500 tahun saat ini menjadi daya tarik wisatawan di Naples. Namun, para ilmuwan jauh-jauh hari memperingatkan, zona aktivitas seismik intensif, yang dikira sebagai “pintu neraka” oleh orang di masa lalu, bisa menyebabkan  bahaya besar bersifat global, yang bisa merenggut jutaan nyawa.

Atau secara harafiah, jutaan orang  kini tinggal di atas gunung berapi super yang berpotensi meletus di masa depan.

Campi Flegrei sejatinya mirip dengan kaldera supervolcano Yellowstone di Amerika Serikat, negara bagian Wyoming –yang bisa menghancurkan dua pertiga AS jika meletus dengan kekuatan penuh.

Namun, Campi Flegrei lebih mengkhawatirkan karena area di Italia dihuni oleh 3 juta orang.

“Area ini bisa menimbulkan letusan yang memiliki efek bencana global, sebanding dengan dampak meteorit besar,” kata Giuseppe De Natale, kepala proyek pengeboran dalam bumi untuk memantau “kaldera” cair tersebut seperti dikutip dari Reuters dan dimuat Smithsonian Magazine.

Selain pertanda malapetaka Pompeii, tanggal 5 Februari juga diwarnai kejadian menarik.

Pada tahun 1971,  Apollo 14 mendarat di Bulan. Dua astronotnya berjalan di permukaan satelit bumi itu. Sementara, pada 5 Februari 1952, New York mengadopsi lampu lalu lintas 3 warna — merah, kuning, hijau.

Di hari yang sama pada tahun 1974, putri jutawan Patty Hearst diculik. Dia adalah korban penculikan yang bersimpati dan lantas memilih bergabung dengan komplotan penculiknya.

Silahkan copy paste artikel ini namun cantumkan link sumber SemuaAdaDisini.com thanks!!